
Loading...

31 Oktober 2026
Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional terus berupaya meningkatkan kapasitas tenaga medis di rumah sakit jejaring kanker. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Fasilitator Penggunaan USG Payudara di FKTP dan Pelayanan Mamografi di Rumah Sakit bagi Dokter Spesialis Radiologi di Rumah Sakit Jejaring Kanker.
Kegiatan yang berlangsung pada 27–30 Oktober 2026 di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta, ini bertujuan meningkatkan kompetensi dokter spesialis radiologi dalam mendukung deteksi dini kanker payudara serta memperkuat pelayanan kanker di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, menyampaikan bahwa kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Namun, tantangan penanganan kanker tidak hanya berkaitan dengan tingginya kasus, tetapi juga kesenjangan akses terhadap layanan deteksi dini dan diagnosis, terutama di wilayah luar Pulau Jawa dan daerah terpencil.
Menurutnya, pemerataan akses layanan kanker membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk rumah sakit jejaring. RS Kanker Dharmais sebagai rumah sakit pengampu terus menjalankan pendampingan melalui konsultasi jarak jauh, konsultasi langsung, proctorship, hingga kegiatan praktik langsung (hands-on) untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis di rumah sakit daerah.
Ia juga menekankan pentingnya mengoptimalkan fasilitas kesehatan yang telah tersedia, termasuk peralatan USG di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Dengan peningkatan kompetensi tenaga medis, pemanfaatan alat tersebut diharapkan dapat mendukung upaya deteksi dini kanker payudara secara lebih luas.
“Mungkin kalau kita di Pulau Jawa ke mana pun itu aksesnya mudah. Tapi untuk saudara-saudara kita yang ada di kepulauan, di luar Pulau Jawa, itu masih membutuhkan kita untuk bersama-sama,” ungkap dr. Eniarti.
Ia berharap penguatan jejaring pelayanan dapat membantu mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan kanker. Dengan demikian, deteksi dini, penegakan diagnosis, hingga penanganan pasien dapat berjalan secara berkesinambungan melalui sistem rujukan yang sesuai dengan kompetensi fasilitas kesehatan.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Uswathun Hasanah dari Direktorat Penyakit Tidak Menular, Tim Kerja Penyakit Kanker, Kementerian Kesehatan RI, memaparkan bahwa lebih dari 50 persen kasus kanker payudara diperkirakan ditemukan pada stadium lanjut. Padahal, peluang kelangsungan hidup pasien dapat mencapai lebih dari 97 persen apabila kanker terdeteksi pada stadium dini, berdasarkan paparan yang disampaikan.
“Diperkirakan lebih dari 50% kasus kanker payudara ini didiagnosis pada stadium lanjut. Padahal, jika didiagnosis pada stadium dini, pasien masih memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih dari 97% setelah lima tahun sejak terdiagnosis,” jelasnya.
Ia turut menyoroti tantangan dalam pelaksanaan skrining kanker payudara, terutama ketika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi abnormal, tetapi pasien tidak melanjutkan proses pemeriksaan atau rujukan ke rumah sakit. Kondisi lost to follow-up tersebut menjadi perhatian karena dapat menghambat penanganan pasien sejak tahap awal.
Selain itu, pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia perlu terus ditingkatkan. Dalam paparannya, dr. Uswathun menyampaikan bahwa ribuan puskesmas telah memiliki perangkat USG, sehingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung deteksi dini kanker payudara.
Sementara itu, Ketua Tim Fellowship Bidang Kesehatan, dr. Laila Mahmudah, MPH, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah distribusi tenaga medis yang belum merata, kesenjangan kompetensi, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, khususnya di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
“Sampai saat ini kita masih memiliki tantangan besar dalam peningkatan kualitas SDM kesehatan. Yang pertama adalah distribusi tenaga medis yang belum merata, terutama di daerah yang sulit, akibat minat dan atensi yang rendah, khususnya di DTPK dan daerah-daerah yang tertinggal,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, serta program fellowship. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendukung pemerataan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk dalam penguatan layanan kanker melalui jejaring rumah sakit.
Melalui workshop ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam pemanfaatan USG payudara di FKTP serta pelayanan mamografi di rumah sakit. Kompetensi tersebut diharapkan dapat mendukung deteksi dini, memperkuat proses diagnosis, dan meningkatkan kesinambungan pelayanan bagi pasien kanker payudara.
RS Kanker Dharmais berkomitmen untuk terus memperkuat peran sebagai pusat pengampuan kanker nasional melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengembangan jejaring pelayanan. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, akses terhadap deteksi dini dan layanan kanker yang berkualitas diharapkan semakin merata di seluruh Indonesia.

30 Oktober 2026
Rumah Sakit Kanker Dharmais memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-33 melalui kegiatan yang berlangsung di Auditorium Utama RS Kanker Dharmais, Jumat (30/10/2026). Mengusung tema “Mengabdi, Menginspirasi, dan Menguatkan Harapan Melawan Kanker”, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh insan RS Kanker Dharmais dalam meningkatkan mutu pelayanan kanker serta memberikan kontribusi nyata bagi penanggulangan kanker di Indonesia.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, mengatakan bahwa perjalanan selama 33 tahun merupakan bukti pengabdian, perjuangan, dan pembelajaran institusi dalam menjalankan amanah sebagai pusat kanker nasional. Ia menegaskan bahwa pelayanan kanker tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga harus memperhatikan pasien dan keluarga yang menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan pengobatan.
“Kita tidak hanya mengobati penyakit, tetapi juga mendampingi insan, manusia dalam satu perjalanan terberat dalam hidupnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tema HUT ke-33 bukan sekadar rangkaian kata, melainkan komitmen yang harus diwujudkan dalam setiap langkah dan karya. Pengabdian diwujudkan melalui pelayanan sepenuh hati dengan mengedepankan profesionalisme, integritas, keselamatan pasien, empati, dan kepedulian. Sementara itu, semangat menginspirasi diwujudkan melalui inovasi, pengembangan kompetensi, pendidikan, penelitian, dan kolaborasi.
“Menguatkan harapan melawan kanker berarti memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pelayanan terbaik, informasi yang jelas, pendampingan yang manusiawi, serta dukungan untuk menjalani kehidupannya dengan kualitas yang sebaik mungkin,” lanjutnya.
dr. Eniarti juga mengingatkan bahwa tantangan pelayanan kanker semakin kompleks sehingga diperlukan transformasi berkelanjutan, penguatan tata kelola, peningkatan mutu pelayanan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pengawas RS Kanker Dharmais, Dr. Bambang Widianto, M.A., menyampaikan apresiasi atas berbagai capaian dan perkembangan RS Kanker Dharmais selama 33 tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa berbagai prestasi tersebut harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kontribusi rumah sakit terhadap perbaikan indikator kesehatan nasional.
“Sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional, sebagai insan Kementerian Kesehatan, tugas utama kita adalah memperbaiki indikator kesehatan nasional kita,” tegasnya.
Ia menyoroti angka ketahanan hidup lima tahun (five-year survival rate) pasien kanker payudara sebagai salah satu indikator yang masih perlu mendapat perhatian. Dalam sambutannya, ia menyebutkan bahwa angka Indonesia sekitar 55 persen, sementara Singapura mencapai 85 persen dan negara maju mendekati 90 persen.
“Terlepas dari masalah datanya yang barangkali belum akurat, tetapi ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai pencapaian rumah sakit, termasuk perkembangan fasilitas dan keberadaan Gedung Cendana, harus dimanfaatkan sebagai modal untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memperbaiki indikator kesehatan nasional.
Ia juga mendorong RS Kanker Dharmais untuk terus memperkuat perannya sebagai pelopor dan pusat kanker nasional yang disegani di kawasan.
“Jadikan Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai pelopor, sebagai pusat kanker nasional yang disegani di kawasan kita sendiri. Kita harus muncul dengan berbagai macam penelitian yang canggih dan maju, yang ujungnya harus bermanfaat bagi masyarakat kita,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Panitia HUT ke-33 RS Kanker Dharmais, dr. Fadhli Aulia Mughni, M.Sc., Sp.D.V.E., menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan HUT ke-33 disusun dalam tiga fase utama dan diintegrasikan dengan peringatan World Cancer Day 2027.
Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan sivitas hospitalia RS Kanker Dharmais melalui berbagai aktivitas olahraga dan nonolahraga, kegiatan seremonial, serta kegiatan kebersamaan. Salah satunya adalah syukuran ulang tahun yang dilaksanakan pada 30 Oktober 2026 dan akan dilanjutkan dengan acara puncak peringatan HUT pada 14 November 2026.
“Fase kegiatan kedua akan diisi dengan kegiatan ilmiah yang berlangsung pada September hingga Desember 2026. Sementara itu, fase ketiga merupakan rangkaian kegiatan untuk memperingati World Cancer Day 2027 yang direncanakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2027,” terangnya.
Pelaksanaan rangkaian kegiatan HUT tahun ini juga beriringan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 yang turut melibatkan masyarakat umum melalui berbagai kegiatan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan.
“Kegiatan meliputi Cek Kesehatan Gratis, donor darah, mammografi, pemeriksaan HPV, skrining kanker paru, pemeriksaan mata, hingga sunatan massal,” tambahnya.
Ketua Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mempersiapkan dan menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur di lingkungan rumah sakit diharapkan dapat mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus berkarya.
Peringatan HUT ke-33 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan RS Kanker Dharmais tidak hanya diukur dari perkembangan fasilitas maupun pencapaian institusi, tetapi juga dari kontribusinya dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan masyarakat.
Dengan semangat mengabdi, menginspirasi, dan menguatkan harapan melawan kanker, RS Kanker Dharmais berkomitmen untuk terus bertumbuh sebagai pusat kanker nasional yang unggul, tepercaya, dan berkontribusi bagi kemajuan pelayanan kanker di Indonesia.

30 Oktober 2026
Ada yang istimewa dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-33 Rumah Sakit Kanker Dharmais. Mengusung semangat Beyond Cancer, RS Kanker Dharmais memberikan kado kesehatan berupa pemeriksaan Medical Check-Up (MCU) gratis kepada dua pesohor Tanah Air, Marcel Chandrawinata dan Tengku Dewi.
Menariknya, pemeriksaan ini menjadi pengalaman pertama bagi keduanya menjalani Medical Check-Up komprehensif sepanjang hidup mereka.
Marcel dan Tengku Dewi tampak antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan melalui Paket MCU Diamond, salah satu layanan pemeriksaan kesehatan premium di RSK Dharmais Cendana.
Paket ini mencakup pemeriksaan menyeluruh, mulai dari MRI otak, Low Dose CT Thorax, USG abdomen dan pelvis, pemeriksaan jantung, laboratorium lengkap, hingga pemeriksaan penanda tumor (tumor marker). Pemeriksaan khusus pria mencakup PSA, sementara pemeriksaan wanita dilengkapi Pap Smear LBC dan HPV DNA Genotyping. Keduanya juga mendapatkan konsultasi dengan sejumlah dokter spesialis.
Seluruh rangkaian pemeriksaan berlangsung lancar, cepat, nyaman, dan terintegrasi di Gedung Cendana, fasilitas baru RS Kanker Dharmais yang menghadirkan layanan kesehatan eksekutif berstandar VIP.
Sejumlah hasil pemeriksaan awal yang telah tersedia menunjukkan gambaran yang baik. Meski demikian, hasil lengkap masih menunggu evaluasi dan interpretasi lanjutan dari tim dokter spesialis, terutama dokter spesialis penyakit dalam.
Momen paling menyentuh terjadi ketika Marcel Chandrawinata menyempatkan diri mengunjungi gedung lama RS Kanker Dharmais untuk menyapa para pasien kanker. Marcel berinteraksi, berfoto bersama, serta memberikan semangat kepada mereka yang tengah menjalani perjuangan melawan kanker.
Kehadirannya sekaligus membawa pesan bahwa menjaga kesehatan tidak harus menunggu datangnya penyakit. Pemeriksaan kesehatan berkala dan deteksi dini yang tepat merupakan langkah penting untuk mengenali risiko kesehatan sedini mungkin.
Melalui momentum ulang tahun ke-33 ini, RS Kanker Dharmais ingin menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup, memberikan kenyamanan, dan menghadirkan harapan.
Karena kesehatan adalah hadiah paling berharga, dan kepedulian adalah awal dari sebuah harapan.

21 Oktober 2026
RS Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional terus memperkuat perannya dalam meningkatkan pelayanan kanker payudara di Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan City Cancer Challenge (C/Can) dalam program C/Can Horizon untuk menyusun Rencana Aksi Kanker Payudara di Jakarta sebagai langkah implementasi Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara (Breast Cancer National Action Plan/BCNAP) 2025–2034.
Dilansir dari citycancerchallenge.org, kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Kementerian Kesehatan melalui RS Kanker Dharmais dan C/Can. Program tersebut juga mendapat dukungan dari Roche Indonesia, dengan tujuan memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan dan mendorong pelayanan kanker payudara yang lebih komprehensif, terintegrasi, serta sesuai dengan kebutuhan sistem kesehatan di Jakarta.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan sekaligus mendorong pengembangan layanan kanker payudara yang lebih terintegrasi.
“Sebagai Pusat Kanker Nasional, RS Kanker Dharmais memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan nasional dengan implementasi pelayanan kanker. Melalui kolaborasi dengan C/Can, kami berharap upaya ini dapat memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, menyelaraskan prioritas, serta mendorong peningkatan layanan kanker payudara yang lebih komprehensif dan terintegrasi,” ujar dr. Eniarti.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat di Jakarta, tetapi juga menghasilkan pembelajaran berharga untuk mendukung peningkatan pelayanan kanker payudara di seluruh Indonesia.
Jakarta menjadi kota kedua di Indonesia yang menjalankan pendekatan ini melalui program C/Can Horizon. Sebelumnya, pada 2025, Yogyakarta menjadi kota percontohan pertama di Indonesia yang menerapkan pendekatan berbasis data dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan pelayanan kanker payudara. Pengalaman tersebut menjadi landasan awal bagi pengembangan program di Jakarta.
Melalui C/Can Horizon, Jakarta memanfaatkan hampir satu dekade pengalaman implementasi dan keahlian teknis yang dikembangkan bersama kota-kota inti (Core Cities) C/Can sejak 2017. Pengalaman tersebut dilengkapi dengan perangkat kerja, model dasar, serta pembelajaran praktis yang telah dikembangkan melalui berbagai inisiatif C/Can. Tim di Jakarta selanjutnya akan menyesuaikan pendekatan tersebut dengan kebutuhan dan kondisi sistem kesehatan setempat, sekaligus memberikan pembelajaran baru bagi pengembangan model di kota-kota lain.
Direktur Regional Asia C/Can, Chika Kitajima, menyampaikan bahwa keterlibatan berbagai kota dalam program Horizon dapat memperkuat bukti dan pembelajaran mengenai penerjemahan prioritas nasional menjadi pelayanan kesehatan yang lebih terkoordinasi.
“Yogyakarta telah menunjukkan bahwa arahan nasional dan kepemimpinan daerah dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan perubahan. Jakarta menghadirkan skala yang lebih besar serta keterlibatan berbagai institusi dengan karakteristik yang berbeda. Pembelajaran dari Jakarta diharapkan dapat memperkuat model ini untuk diterapkan di kota-kota Indonesia berikutnya,” ujar Chika Kitajima.
Sementara itu, Presiden Direktur Roche Indonesia, Sanaa Sayagh, menilai bahwa inisiatif pelayanan kanker payudara berbasis data dan kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta dapat mendukung peningkatan hasil pelayanan bagi pasien. Pendekatan komprehensif dan terkoordinasi yang mengintegrasikan inovasi diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi perempuan Indonesia.
“Inisiatif kanker payudara di Yogyakarta menunjukkan pentingnya kemitraan pemerintah dan swasta yang didorong oleh komitmen untuk meningkatkan hasil pelayanan bagi pasien kanker payudara melalui pendekatan berbasis data dan dipimpin oleh pemerintah daerah. Inisiatif ini menjadi contoh pendekatan pelayanan kanker payudara yang komprehensif dan terkoordinasi dengan mengintegrasikan inovasi,” ujar Sanaa Sayagh.
Menurutnya, Perluasan program ke Jakarta semakin menegaskan bahwa pendekatan ini memiliki landasan yang kuat untuk meningkatkan hasil pelayanan kesehatan bagi setiap perempuan Indonesia
C/Can Horizon di Jakarta
C/Can Horizon mengadaptasi pendekatan implementasi yang telah diterapkan di kota-kota inti C/Can dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan dan kesiapan masing-masing daerah. Di Jakarta, program ini diselaraskan dengan target WHO Global Breast Cancer Initiative (GBCI), termasuk sasaran untuk menurunkan angka kematian akibat kanker payudara sebesar 2,5% setiap tahun. Program ini juga memanfaatkan kerangka kerja global yang dikembangkan melalui inisiatif tersebut.
Dalam pelaksanaannya, institusi di Jakarta akan memimpin proses pengembangan program, sementara C/Can memberikan dukungan berupa pengetahuan implementasi dan keahlian teknis yang dikembangkan melalui jaringan kota-kota mitranya di berbagai negara. Selama enam bulan, para mitra akan menjalankan lima tahapan utama sebagai berikut.
1. Pemetaan Ekosistem Kanker Payudara
Mengidentifikasi institusi dan pemangku kepentingan yang berperan dalam pelayanan kanker payudara di Jakarta.
2. Pembentukan Tata Kelola Program
Membentuk City Executive Committee dan Breast Cancer Working Group yang berfokus pada diagnosis tepat waktu (prompt diagnosis) serta penatalaksanaan kanker payudara secara komprehensif (comprehensive breast cancer management).
3. Analisis Situasi Pelayanan
Menilai kualitas diagnostik, kapasitas tenaga kesehatan, infrastruktur, dan jalur rujukan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan terpilih. Hasilnya akan dituangkan dalam Situation Analysis Report.
4. Penyusunan Rencana Aksi
Melibatkan 40–70 tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan dalam lokakarya selama dua hari untuk menyusun Rencana Aksi Kanker Payudara Jakarta.
5. Persiapan Implementasi Program
Menyusun empat hingga lima konsep proyek yang mencakup tujuan, peta jalan pelaksanaan, dan target hasil sebagai tindak lanjut dari prioritas yang telah disepakati.
Kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, RS Kanker Dharmais, C/Can, dan Roche Indonesia mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong pelayanan kanker yang berkualitas dan dapat diakses secara merata. Bagi RS Kanker Dharmais, keterlibatan dalam program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi antara kebijakan nasional, kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan, dan kebutuhan masyarakat.
Melalui pendekatan berbasis data, koordinasi lintas sektor, dan penyusunan prioritas yang terarah, program C/Can Horizon diharapkan dapat mendukung pengembangan pelayanan kanker payudara yang lebih komprehensif dan terintegrasi di Jakarta. Pengalaman serta pembelajaran yang diperoleh dari pelaksanaan program ini juga diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan pelayanan kanker payudara di kota dan provinsi lain, sehingga upaya peningkatan kualitas pelayanan kanker dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.