
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional terus berupaya meningkatkan kapasitas tenaga medis di rumah sakit jejaring kanker. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Fasilitator Penggunaan USG Payudara di FKTP dan Pelayanan Mamografi di Rumah Sakit bagi Dokter Spesialis Radiologi di Rumah Sakit Jejaring Kanker.
Kegiatan yang berlangsung pada 27–30 Oktober 2026 di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta, ini bertujuan meningkatkan kompetensi dokter spesialis radiologi dalam mendukung deteksi dini kanker payudara serta memperkuat pelayanan kanker di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, menyampaikan bahwa kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Namun, tantangan penanganan kanker tidak hanya berkaitan dengan tingginya kasus, tetapi juga kesenjangan akses terhadap layanan deteksi dini dan diagnosis, terutama di wilayah luar Pulau Jawa dan daerah terpencil.
Menurutnya, pemerataan akses layanan kanker membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk rumah sakit jejaring. RS Kanker Dharmais sebagai rumah sakit pengampu terus menjalankan pendampingan melalui konsultasi jarak jauh, konsultasi langsung, proctorship, hingga kegiatan praktik langsung (hands-on) untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis di rumah sakit daerah.
Ia juga menekankan pentingnya mengoptimalkan fasilitas kesehatan yang telah tersedia, termasuk peralatan USG di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Dengan peningkatan kompetensi tenaga medis, pemanfaatan alat tersebut diharapkan dapat mendukung upaya deteksi dini kanker payudara secara lebih luas.
“Mungkin kalau kita di Pulau Jawa ke mana pun itu aksesnya mudah. Tapi untuk saudara-saudara kita yang ada di kepulauan, di luar Pulau Jawa, itu masih membutuhkan kita untuk bersama-sama,” ungkap dr. Eniarti.
Ia berharap penguatan jejaring pelayanan dapat membantu mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan kanker. Dengan demikian, deteksi dini, penegakan diagnosis, hingga penanganan pasien dapat berjalan secara berkesinambungan melalui sistem rujukan yang sesuai dengan kompetensi fasilitas kesehatan.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Uswathun Hasanah dari Direktorat Penyakit Tidak Menular, Tim Kerja Penyakit Kanker, Kementerian Kesehatan RI, memaparkan bahwa lebih dari 50 persen kasus kanker payudara diperkirakan ditemukan pada stadium lanjut. Padahal, peluang kelangsungan hidup pasien dapat mencapai lebih dari 97 persen apabila kanker terdeteksi pada stadium dini, berdasarkan paparan yang disampaikan.
“Diperkirakan lebih dari 50% kasus kanker payudara ini didiagnosis pada stadium lanjut. Padahal, jika didiagnosis pada stadium dini, pasien masih memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih dari 97% setelah lima tahun sejak terdiagnosis,” jelasnya.
Ia turut menyoroti tantangan dalam pelaksanaan skrining kanker payudara, terutama ketika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi abnormal, tetapi pasien tidak melanjutkan proses pemeriksaan atau rujukan ke rumah sakit. Kondisi lost to follow-up tersebut menjadi perhatian karena dapat menghambat penanganan pasien sejak tahap awal.
Selain itu, pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia perlu terus ditingkatkan. Dalam paparannya, dr. Uswathun menyampaikan bahwa ribuan puskesmas telah memiliki perangkat USG, sehingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung deteksi dini kanker payudara.
Sementara itu, Ketua Tim Fellowship Bidang Kesehatan, dr. Laila Mahmudah, MPH, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah distribusi tenaga medis yang belum merata, kesenjangan kompetensi, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, khususnya di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
“Sampai saat ini kita masih memiliki tantangan besar dalam peningkatan kualitas SDM kesehatan. Yang pertama adalah distribusi tenaga medis yang belum merata, terutama di daerah yang sulit, akibat minat dan atensi yang rendah, khususnya di DTPK dan daerah-daerah yang tertinggal,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, serta program fellowship. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendukung pemerataan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk dalam penguatan layanan kanker melalui jejaring rumah sakit.
Melalui workshop ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam pemanfaatan USG payudara di FKTP serta pelayanan mamografi di rumah sakit. Kompetensi tersebut diharapkan dapat mendukung deteksi dini, memperkuat proses diagnosis, dan meningkatkan kesinambungan pelayanan bagi pasien kanker payudara.
RS Kanker Dharmais berkomitmen untuk terus memperkuat peran sebagai pusat pengampuan kanker nasional melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengembangan jejaring pelayanan. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, akses terhadap deteksi dini dan layanan kanker yang berkualitas diharapkan semakin merata di seluruh Indonesia.