
Loading...

Kemoterapi dikenal sebagai salah satu terapi utama dalam penanganan kanker. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa kemoterapi memiliki efek samping. Ekstravasasi adalah salah satu efek samping tersebut. Kondisi ini kerap menimbulkan rasa tidak nyaman, dan bahkan bisa berisiko membahayakan nyawa jika terus dibiarkan. Untuk menekan risiko tersebut, Anda perlu mengetahui apa itu ekstravasasi, penyebab, hingga gejalanya.
Kemoterapi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemberian obat pil atau langsung melalui pembuluh darah (intravena). Ekstravasasi adalah kondisi medis yang terjadi saat cairan kemoterapi intravena bocor dari pembuluh darah dan masuk ke jaringan-jaringan di sekitarnya. Meskipun sebetulnya risiko ini jarang terjadi, ekstravasasi merupakan komplikasi yang serius. Tingkat komplikasinya sendiri bergantung pada jenis obat kemoterapi yang diberikan.
Kondisi ini bisa muncul karena kombinasi berbagai faktor. Salah satunya adalah vena yang rapuh dan mudah pecah, sebab pasien kanker umumnya menjalani banyak pemasangan IV. Faktor lain yang dapat menjadi penyebab ekstravasasi adalah kesalahan pemasangan IV, pemasangan infus yang tidak stabil, serta kurangnya pemantauan selama infus dipasang.
Pada sesi kemoterapi, tenaga medis biasanya meminta Anda untuk memberi tahu mereka jika Anda mengalami ketidaknyamanan tertentu. Hal ini penting untuk dilakukan, terutama jika obat kemoterapi bersifat vesicant, yang cenderung lebih toxic daripada jenis obat lain. Umumnya, gejala awal ekstravasasi yang paling sering terjadi adalah:
Sensasi terbakar atau tidak nyaman di area sekitar infus;
Aliran infus cenderung lambat;
Kulit di area tusukan kateter terlihat bengkak dan merah;
Perasaan seperti sesak atau tertekan di sekitar lokasi IV.
Namun, terkadang pasien tidak langsung menyadari adanya masalah saat kemoterapi berlangsung, terutama jika gejala awalnya cenderung ringan. Biasanya, gejala baru akan muncul setelah beberapa jam atau hari setelah infus.
Ekstravasasi adalah efek samping kemoterapi yang dapat berkembang menjadi komplikasi jika tidak segera diatasi. Ketika obat vesicant terus terpapar ke jaringan di luar pembuluh darah, sel-sel jaringan bisa berisiko mati (nekrosis).
Pada kasus yang lebih parah, komplikasi ekstravasasi juga bisa meluas ke struktur jaringan lebih dalam. Paparan obat vesicant dapat merusak otot dan sendi hingga berisiko menyebabkan keterbatasan gerak, penurunan fleksibilitas sendi, hingga nyeri kronis. Bahkan, jika obat tersebut mencapai saraf, pasien bisa berisiko mengalami gangguan fungsi sensorik dan motorik anggota tubuh, sensasi mati rasa atau nyeri, hingga kerusakan saraf permanen.
Kabar baiknya, ekstravasasi adalah efek samping kemoterapi yang dapat dicegah. Tenaga kesehatan dapat membekali diri tentang teknik tepat pemberian obat kemoterapi, karakteristik obat, pengenalan tanda awal ekstravasasi, hingga manajemen risiko.
Lalu, sebelum memasang IV saat kemoterapi, tenaga kesehatan perlu memeriksa vena pasien secara menyeluruh. Idealnya, IV dipasang pada vena yang cukup besar, lurus, dan estatis. Vena tersebut juga sebaiknya tidak berada di lokasi dekat persendian atau area berisiko. Untuk obat vesicant yang berisiko lebih tinggi merusak jaringan, tenaga medis bisa memilih akses vena sentral. Sebab, risiko ekstravasasinya relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan vena perifer.
Apabila terjadi ekstravasasi, tenaga medis biasanya akan segera memutus sambungan infus dan menghentikan pemberian obat kemoterapi. Meski begitu, kateter atau jarum (kanula) akan tetap bertahan pada tempatnya.
Melalui kanula tersebut, tenaga medis akan mencoba melakukan aspirasi atau mengambil sebanyak mungkin obat yang telah bocor ke jaringan. Semakin banyak obat yang bisa diambil, akan semakin sedikit jumlah obat yang tersisa di jaringan untuk mengurangi risiko kerusakan.
Kemudian, tenaga medis akan mencatat kronologi kejadian secara rinci dalam rekam medis. Tujuannya untuk memantau perkembangan kondisi pasien dan tindakan lanjutan. Setelah tindakan aspirasi selesai, kanula bisa dilepas sesuai dengan protokol yang berlaku. Hindari memberi tekanan kuat pada area ekstravasasi karena bisa memperparah penyebaran obat.
Ekstravasasi adalah efek samping yang bisa terjadi saat pemberian kemoterapi intravena. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini tidak boleh disepelekan karena bisa berkembang menjadi komplikasi jika tidak segera ditangani. Kabar baiknya, risiko ekstravasasi dapat diminimalisir melalui penerapan standar pelayanan medis yang ketat, sistem pemantauan menyeluruh, dan tenaga kesehatan yang terlatih.
RS Kanker Dharmais telah mengimplementasikan seluruh faktor tersebut demi menjaga keselamatan pasien. Dengan pengawasan ketat selama pemberian kemoterapi, seleksi akses vena yang tepat, dan penanganan cepat saat kondisi darurat, pasien tidak perlu merasa khawatir saat menjalani kemoterapi di RS Kanker Dharmais. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut atau membuat jadwal konsultasi dengan dokter spesialis, kunjungi halaman pendaftaran resmi RS Kanker Dharmais.