
Loading...

Di Indonesia, stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang dilansir Universitas Airlangga, sebanyak 67-68% ODHA mengalami diskriminasi dari keluarga dan orang terdekat mereka. Bahkan pada kelompok ODHA usia 15–54 tahun, tingkat diskriminatif dari keluarga mencapai 72,1%.
Angka tersebut mencerminkan kuatnya prasangka masyarakat terhadap ODHA, yang akhirnya turut memengaruhi sikap mereka. Realitas ini berakar dari miskonsepsi yang begitu luas, mulai dari cara penularan HIV sampai anggapan moral yang keliru tentang ODHA.
Demi mengurangi diskriminasi tersebut, sudah saatnya kita bersama-sama memahami fakta di balik stigma terhadap ODHA, yaitu:
Salah satu alasan banyak orang menjauhi ODHA adalah takut tertular HIV/AIDS. Mereka khawatir akan tertular penyakit tersebut saat berjabat tangan, bersentuhan, berpelukan, berbagi alat makan, atau menggunakan toilet yang sama. Padahal, HIV tidak dapat menular melalui kontak fisik maupun air liur. Virus penyebab HIV tidak mampu hidup lama di luar tubuh, tidak bisa bertahan hidup di air, dan tidak dapat bertahan dari paparan udara maupun suhu panas.
Orang dengan HIV/AIDS tetap bisa memiliki keturunan yang sehat selama menjalani pengobatan rutin. Dengan perawatan yang tepat, kadar virus HIV dalam tubuh ODHA bisa berkurang hingga berpeluang mencegah penularan HIV ke bayi.
Khusus untuk calon ibu, peluang tersebut juga dapat diperkuat dengan antiretroviral therapy sejak awal kehamilan. Melalui pengobatan ART disertai screening kehamilan rutin, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi bisa ditekan secara efektif.
Hubungan seksual, terutama yang tidak aman seperti tanpa menggunakan kondom, memang merupakan salah satu cara utama HIV bisa menular. Namun, faktor tersebut bukanlah satu-satunya. Selain itu, penularan HIV juga bisa terjadi melalui:
Berbagi jarum suntik atau alat suntik yang tidak steril;
Penularan dari ibu positif HIV ke bayi, baik sebelum atau saat persalinan maupun melalui ASI;
Transfusi darah atau produk darah yang tidak disaring secara ketat.
Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa ODHA dapat diidentifikasi melalui penampilan fisik. Nyatanya, banyak ODHA tidak memiliki gejala fisik yang terlihat, terutama pada tahap awal infeksi HIV.
Sebagai informasi, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Selama fase awal, pengidap HIV bisa saja memiliki kondisi sehat secara fisik dan tidak memperlihatkan gejala jelas, tapi tetap membawa virus. Jika ada keluhan pun, biasanya cenderung mirip dengan kondisi medis lain, seperti demam atau kelelahan.
Apabila tidak segera mendapat penanganan tepat, infeksi HIV tersebut bisa berkembang menjadi AIDS. Kondisi ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah sehingga tubuh pengidap tidak lagi mampu melawan berbagai penyakit. Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk memastikan status infeksi adalah melalui tes darah.
HIV bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pengobatan antiretroviral dan check-up medis secara rutin, ODHA dapat mempertahankan sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan, dan menjalani hidup produktif dalam jangka panjang.
Pengobatan antiretroviral sendiri bekerja dengan menghambat reproduksi virus. Hal ini dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh hingga mencapai tingkat undetectable. Hasilnya, tubuh akan tetap sehat sekaligus bisa mencegah penularan HIV kepada pasangan.
Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa dengan dukungan medis tepat dan pemahaman yang benar, ODHA dapat hidup aman, normal, dan produktif bersama masyarakat luas. Kini, saatnya kita bersama-sama merangkul ODHA di kalangan masyarakat dengan cara-cara berikut:
Edukasi melalui media sosial, seminar, kegiatan komunitas, kampanye publik, dan keterlibatan tokoh masyarakat untuk meluruskan miskonsepsi tentang HIV/AIDS;
Gunakan pendekatan bahasa yang inklusif dan non-stigmatis seperti “orang yang hidup dengan HIV” daripada “penderita AIDS”;
Berikan dukungan sosial yang kuat kepada ODHA, misalnya melalui komunikasi empatik dan mengajak mereka berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat;
Melibatkan ODHA secara langsung dalam program komunitas, seperti peer support group atau cerita pengalaman pribadi dalam kampanye publik;
Tetapkan kebijakan yang melindungi ODHA dari diskriminasi di tempat kerja dan layanan publik.
Diskriminasi terhadap ODHA muncul dari ketidaktahuan. Oleh sebab itu, edukasi yang benar dan berkelanjutan menjadi kunci penting untuk mengubah pandangan masyarakat. Saat informasi yang tepat menggantikan stigma, empati akan terus tumbuh dan diskriminasi pun bisa ditekan. Bersama-sama, mari kita menciptakan ruang yang aman, sehat, dan inklusif bagi ODHA dan seluruh lapisan masyarakat.