
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais membentuk Keluarga Residen Onkologi Radiasi (KESIORAD) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Onkologi Radiasi RSPPU sebagai wadah komunikasi bagi peserta didik. KESIORAD diresmikan dalam acara yang digelar pada Jumat, 7 Agustus 2026, di Auditorium Tower C RSK Dharmais. Acara tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan, Dewan Pengawas, jajaran direksi, Unit Fungsional Pendidikan, Program Studi Onkologi Radiasi RSPPU, pengajar dan peserta PPDS Onkologi Radiasi RSPPU, serta keluarga peserta didik.
Direktur Penyediaan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan, dr. Ika Trisia, MKM., mengatakan KESIORAD tidak sekadar menjadi forum yang dibentuk secara formal, tetapi menjadi ruang komunikasi yang dapat digunakan peserta didik ketika menghadapi persoalan selama menjalani pendidikan.
“Intinya adalah jika ada permasalahan ditemukan selama menjalani program studi ini, kita punya wadah untuk bisa mengkomunikasikan,” ujar Ika.
Menurut dr. Ika, persoalan yang dihadapi peserta didik tidak selalu berkaitan dengan aspek akademik. Karena itu, komunikasi antara peserta didik, pengelola pendidikan, rumah sakit, dan keluarga perlu dibangun secara terbuka.
Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang yang dapat saling menguatkan antara peserta didik, pengelola pendidikan, dan rumah sakit. Ia menyebut Kementerian Kesehatan memiliki program wellbeing yang dapat menjadi wadah untuk mengetahui kondisi peserta residen selama menjalani pendidikan.
“Rumah sakit juga akan sangat-sangat helpful dan juga akan sangat menolong apa pun kesulitan yang dialami atau yang dikeluhkan oleh peserta-peserta residen,” tambah dr. Ika.
Sementara itu, Inspektur IV Kementerian Kesehatan, Togu Sihombing, S.T., M.Si., CCIA, QGIA, mengatakan pembentukan KESIORAD perlu diikuti dengan pengawasan dan komitmen untuk membangun pendidikan dokter spesialis yang bebas dari perundungan.
“Integritas bagi kami, kata singkatnya adalah melakukan yang benar walaupun tidak ada yang melihat,” kata Togu.
Ia meminta peserta didik meninggalkan stigma negatif dalam pendidikan spesialis dan membangun budaya baru yang mengedepankan empati serta saling menghormati. Ia juga mendorong agar hubungan senior dan junior tidak berkembang menjadi relasi yang otoriter.
“Kalau perlu, diksi-diksi atau kalimat-kalimat junior-senior itu dibuang,” tegasnya.
Togu menambahkan, peserta PPDS perlu dibentuk menjadi dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan kepedulian terhadap keselamatan pasien.
Bangun Komunikasi Terbuka dalam Pendidikan PPDS
Ketua Dewan Pengawas RSK Dharmais, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., menyampaikan pembentukan KESIORAD penting karena persoalan dalam lingkungan pendidikan perlu memiliki saluran komunikasi yang jelas. Menurutnya, ketidakterbukaan dapat membuat persoalan yang semula kecil berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
“KESIORAD ini akan menjadi wadah bagi kita dalam berkomunikasi, dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam pendidikan,” jelasnya.
Lucia berharap forum ini dapat digunakan dengan baik untuk membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik, termasuk persoalan yang berkaitan dengan proses pendidikan maupun masalah keluarga. Ia juga menilai keterlibatan keluarga penting karena perjalanan pendidikan dokter spesialis membutuhkan dukungan moral dan pemahaman dari lingkungan terdekat peserta didik.
“Sehingga tidak ada, sekali lagi tidak ada, hal-hal yang tidak perlu terjadi, yang di luar masalah pendidikan di dalam proses pelaksanaan pendidikan spesialis Onkologi Radiasi di RS Kanker Dharmais ini,” harapnya.
Di hadapan peserta PPDS, Lucia mengingatkan bahwa kesempatan menempuh pendidikan Onkologi Radiasi di RS Kanker Dharmais sebagai rumah sakit rujukan kanker nasional merupakan kesempatan yang berharga. Oleh karena itu, para peserta didik diminta memanfaatkan masa pendidikan untuk menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya.
“Jadikan Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai rumah kedua Anda dan jadikan sebagai tempat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, karena ini yang pertama di Indonesia ya untuk Onkologi Radiasi.” terangnya.
RS Kanker Dharmais Dorong Pendidikan Dokter Spesialis Berkualitas
Direktur Utama RSK Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., MMR., QHIA, mengatakan rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan pasien kanker, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi calon dokter spesialis.
Menurut dr. Eniarti, pendidikan dokter spesialis membutuhkan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran sekaligus menjaga martabat setiap orang yang berada di dalamnya.
“Pendidikan yang berkualitas hanya dapat tumbuh dalam budaya yang dilandasi profesionalisme, kolaborasi, keterbukaan, saling menghargai, serta bebas dari perundungan, diskriminasi, dan segala bentuk perilaku yang merendahkan martabat manusia,” kata dr. Eniarti.
Ia mengatakan peserta PPDS tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis. Karakter, etika profesi, empati, kemampuan bekerja dalam tim, serta komunikasi dengan pasien juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di bidang kanker, RS Kanker Dharmais juga memiliki tanggung jawab dalam pendidikan dan penelitian. Karena itu, dr. Eniarti mendorong peserta PPDS memanfaatkan berbagai kasus dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan maupun inovasi.
“Jadikanlah rumah sakit ini sebagai laboratorium kalian,” ujarnya.
Melalui pembentukan KESIORAD, RS Kanker Dharmais berharap komunikasi antara peserta didik, pengajar, rumah sakit, Kementerian Kesehatan, dan keluarga dapat berjalan lebih terbuka. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk saling mendukung sekaligus menjaga proses pendidikan dokter spesialis Onkologi Radiasi tetap berorientasi pada kompetensi, integritas, empati, dan keselamatan pasien.