
Loading...

Kanker paru masih menjadi penyebab kematian tertinggi akibat kanker, baik di tingkat dunia maupun di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 menunjukkan sekitar 38.904 kasus baru kanker paru terjadi di Indonesia, dengan sekitar 34.339 kematian pada tahun yang sama. Tingginya angka kematian ini menunjukkan bahwa kanker paru masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan, terutama karena banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D mengatakan tingginya angka kematian akibat kanker paru dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya keterlambatan diagnosis serta keterbatasan akses terhadap pemeriksaan skrining.
“Kanker paru sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak pasien datang dalam kondisi sudah lanjut. Selain itu, akses terhadap pemeriksaan skrining seperti low-dose CT scan juga masih terbatas,” ujar Wamenkes Dante dalam kegiatan Thoracic Oncology, Reconstruction & Complex High-Resection (TORCH) Course, pada 18-19 April 2026 di Jakarta.
Selain deteksi dini, keterbatasan kompetensi bedah juga menjadi tantangan dalam penanganan kanker paru. Menurutnya, peningkatan kemampuan dokter dalam teknik bedah modern sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien.
“Dengan teknik bedah minimal invasif, pasien dapat pulih lebih cepat sehingga dapat segera melanjutkan terapi lanjutan seperti kemoterapi. Hal ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat kanker paru,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) Indonesia, Dr. dr. Ketut Putu Yasa, Sp.B., Sp.BTKV., Subsp.VE(K), FICS, FIATCVS, menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter yang memiliki keahlian khusus dalam bidang toraks di Indonesia.
Menurutnya, jumlah konsultan toraks saat ini masih sangat sedikit, yakni sekitar 20–25 orang di seluruh Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan besar mengingat kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terus meningkat.
“Kami berharap semakin banyak dokter muda yang tertarik mendalami bidang toraks, sehingga pelayanan kanker paru di Indonesia dapat semakin berkembang dan menjangkau lebih banyak pasien,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan pendidikan dan pelatihan bagi dokter spesialis menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan kanker paru.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSK Dharmais, dr. Tengku Winda Ardini, M.Ked(Cardio), Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, mengatakan bahwa kompleksitas penanganan kanker toraks saat ini menuntut pendekatan yang lebih komprehensif.
Menurutnya, penanganan kanker paru tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja, melainkan membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang seperti pulmonologi, penyakit dalam, radioterapi, hemato-onkologi, serta bedah toraks.
Sebagai Pusat Kanker Nasional, RSK Dharmais tidak hanya berperan dalam memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi juga dalam pengembangan ilmu, pendidikan, serta inovasi di bidang onkologi.
“RS Kanker Dharmais tidak hanya menjadi pusat rujukan kanker, tetapi juga pusat unggulan pendidikan dan pelatihan serta mitra strategis dalam kolaborasi regional maupun internasional,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat RS Kanker Dharmais berencana membuka program fellowship toraks bagi dokter Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) guna memperkuat kapasitas tenaga medis dalam menangani kanker paru di Indonesia.
Dalam upaya meningkatkan kompetensi dokter dalam penanganan kanker paru, RS Kanker Dharmais menyelenggarakan kegiatan Thoracic Oncology, Reconstruction & Complex High-Resection (TORCH) Course yang menghadirkan pelatihan Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS), yaitu teknik bedah minimal invasif untuk penanganan kanker paru.
Ketua acara TORCH Course, dr. Abdurrahman Hadi, Sp.BTKV, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi dokter dalam menangani kanker paru melalui teknik bedah minimal invasif.
“Kegiatan ini tidak hanya berupa workshop, tetapi juga diawali dengan simposium ilmiah serta diskusi multidisiplin yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti penyakit dalam, radioterapi, pulmonologi, hemato-onkologi, dan bedah toraks,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman bagi para tenaga medis dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga kualitas tata laksana kanker paru dapat terus meningkat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien.
Melalui peningkatan kompetensi tenaga medis, penguatan kolaborasi multidisiplin, serta pengembangan pendidikan berkelanjutan, diharapkan pelayanan kanker paru di Indonesia dapat semakin maju dan memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi para pasien.