
Loading...

Ketua Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) Indonesia, Dr. dr. Ketut Putu Yasa, Sp.B., Sp.BTKV., Subsp.VE(K), FICS, FIATCVS, mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan dokter bedah konsultan toraks dalam penanganan kanker paru. Jumlah yang ada saat ini masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan layanan bagi pasien.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kolegium BTKV Indonesia melakukan visitasi ke RS Kanker Dharmais pada Senin, 6 April 2026, guna menilai kesiapan penyelenggaraan Program Fellowship Bedah Toraks yang diharapkan dapat membantu meningkatkan jumlah dokter yang memiliki kompetensi khusus dalam menangani kanker paru.
“Kami mengakui bahwa sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk berkontribusi dalam penanganan kanker paru masih belum mencukupi,” ujar dr. Ketut.
Ia menambahkan bahwa kolegium tengah berupaya mempercepat pengembangan program pendidikan di bidang bedah toraks. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuka peluang penyelenggaraan program fellowship di RS Kanker Dharmais. Program ini diharapkan dapat mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialis sekaligus memperkuat layanan penanganan penyakit toraks, terutama kanker paru.
“Kami mencoba membuka peluang penyelenggaraan pendidikan fellowship di RS Kanker Dharmais. Nantinya manajemen rumah sakit, terutama yang menjadi tulang punggung layanan, juga bertugas untuk mencari para peserta didik,” tambahnya.
Dalam kegiatan visitasi ini, berbagai aspek kesiapan rumah sakit turut dibahas. Mulai dari ketersediaan tenaga pengajar, fasilitas layanan medis, hingga sistem pendidikan yang akan diterapkan dalam program fellowship tersebut.
Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RS Kanker Dharmais, dr. Tengku Winda Ardini, M.Ked(Cardio), Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, menyampaikan bahwa pihak manajemen menyambut baik rencana penyelenggaraan program fellowship tersebut.
Sebagai Pusat Kanker Nasional, menurut dr. Winda, RS Kanker Dharmais terus berupaya meningkatkan kualitas layanan bagi pasien melalui pengembangan teknologi medis dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
“Jika ada pengembangan layanan yang berkaitan dengan onkologi toraks, tentu manajemen sangat mendukung. Terlebih jika ada peserta didik yang mengikuti pendidikan di sini, itu menjadi kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa RS Kanker Dharmais menerima rujukan pasien kanker dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, penguatan layanan spesialis menjadi hal yang sangat penting. Dalam beberapa tahun terakhir, rumah sakit juga mengembangkan berbagai layanan berbasis teknologi, termasuk penggunaan teknologi bedah robotik untuk mendukung tindakan medis yang lebih presisi.
Selain sebagai pusat layanan kanker, RS Kanker Dharmais juga berperan sebagai tempat pendidikan bagi tenaga kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Unit Fungsional Pendidikan (UFP) RS Kanker Dharmais, Dr. dr. Rini Andriani, Sp.S(K). Ia menjelaskan bahwa beberapa program pendidikan berbasis rumah sakit telah berjalan di Dharmais, termasuk di bidang onkologi dan patologi klinik onkologi. Pengembangan pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis dalam menangani kasus kanker yang semakin kompleks.
“Kegiatan visitasi ini juga untuk melihat apakah RS Kanker Dharmais dapat menjadi rumah sakit penyelenggara fellowship hospital-based BTKV. Kami juga telah memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan fellowship dari beberapa disiplin ilmu,” jelasnya.
Melalui kegiatan visitasi ini, diharapkan RS Kanker Dharmais dapat memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh kolegium sehingga program fellowship bedah toraks dapat segera dilaksanakan. Program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan jumlah dokter dengan kompetensi khusus serta memperkuat layanan penanganan kanker paru di Indonesia.