
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais bersama AstraZeneca Indonesia memperkuat kolaborasi dalam pengembangan layanan diagnostik presisi melalui pemanfaatan teknologi Next-Generation Sequencing (NGS) guna mendukung penanganan kanker payudara dan kanker paru yang lebih personal, tepat sasaran, dan berbasis bukti.
Kolaborasi tersebut dilatarbelakangi tingginya beban kanker nasional. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Indonesia menghadapi lebih dari 408 ribu kasus kanker baru setiap tahun.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, mengatakan Indonesia masih menghadapi beban kanker yang sangat tinggi. Namun, menurutnya, kanker tidak hanya dipahami sebagai persoalan angka statistik, melainkan juga menyangkut kehidupan pasien dan keluarganya.
"Kanker bukan sekadar diagnosis medis di atas lembar kertas laboratorium. Kanker adalah tentang seorang ibu yang cemas apakah ia masih bisa mendampingi anaknya di hari kelulusan, seorang ayah yang khawatir akan masa depan keluarganya, atau seorang anak yang takut kehilangan pelukan hangat orang tuanya. Di balik setiap angka prevalensi tersebut, terdapat keluarga yang sedang berjuang," ujar dr. Eniarti dalam Konferesi Media "Kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan RS Kanker Dharmais: Next-Generation Sequencing (NGS) untuk Penanganan Kanker Payudara dan Kanker Paru pada Kamis, 4 Juni 2026 di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian dalam pengobatan kanker dapat diatasi melalui implementasi Precision Medicine, yaitu pendekatan yang memungkinkan pengobatan dirancang secara personal berdasarkan karakteristik genetik sel kanker pada setiap pasien.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, diperlukan teknologi diagnostik dengan tingkat akurasi yang tinggi. Salah satunya adalah Next-Generation Sequencing (NGS), yang kini diperkuat melalui kolaborasi antara RS Kanker Dharmais dan AstraZeneca Indonesia.
"Melalui teknologi NGS, kita mampu memetakan hingga 45 mutasi gen sekaligus dalam satu kali pemeriksaan, baik dari sampel jaringan maupun sampel darah pasien," kata dr. Eniarti.
Menurutnya, penguatan kapasitas diagnostik menjadi semakin penting di tengah tingginya angka kanker payudara dan kanker paru di Indonesia, serta kompleksitas karakteristik penyakit yang berbeda pada setiap pasien.
"Penguatan kapasitas diagnostik menjadi semakin penting agar para sejawat dokter memiliki dukungan informasi klinis yang lebih baik dalam menentukan langkah penanganan yang lebih personal," ujarnya.
dr. Eniarti berharap implementasi diagnostik presisi dapat semakin berkembang sehingga lebih banyak pasien kanker memperoleh akses terhadap penanganan yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kanker di Indonesia.
“Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat pemanfaatan teknologi diagnostik presisi, tetapi juga mendorong pengembangan sumber daya manusia kesehatan, penelitian, serta perluasan akses layanan kanker bagi masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Kolaborasi strategis tersebut merupakan bagian dari upaya RS Kanker Dharmais untuk terus meningkatkan kapasitas penanganan kanker, khususnya melalui penguatan layanan diagnostik presisi. Selain pelayanan, RS Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional juga mengemban amanah untuk mengembangkan layanan klinis unggulan, riset yang kompetitif di tingkat global, serta program pengampuan bagi rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menyampaikan bahwa kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Selain tingginya jumlah kasus, kanker juga memiliki kompleksitas biologis yang menyebabkan setiap pasien dapat memiliki karakteristik molekuler yang berbeda.
"Precision diagnostics dapat membantu mendukung keputusan pengobatan yang lebih terarah, personal, dan berbasis bukti, dengan tujuan akhir meningkatkan luaran pasien," ujar Esra.
Ia menjelaskan bahwa teknologi NGS memungkinkan pemetaan biomarker genomik secara komprehensif melalui sampel jaringan maupun darah pasien, sehingga dapat membantu menghubungkan profil molekuler pasien dengan pilihan terapi yang paling sesuai.
Menurutnya, kolaborasi antara AstraZeneca Indonesia dan RSK Dharmais merupakan langkah penting dalam memperluas akses terhadap pemeriksaan molekuler dan memperkuat kapabilitas klinis serta diagnostik dalam penanganan kanker di Indonesia.
"Dengan memperluas akses terhadap pemeriksaan molekuler dan memperkuat kapabilitas klinis serta diagnostik, kolaborasi ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan pengambilan keputusan berbasis bukti dan luaran kanker, sekaligus mendukung transformasi kesehatan nasional," tutup Esra.