
Loading...

RS Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional sekaligus Koordinator Pengampu Nasional terus memperkuat perannya dalam pengembangan layanan kanker di rumah sakit jejaring. Salah satunya melalui kegiatan proctorship layanan radioterapi, khususnya teknik stereotaktik, di RS Kemenkes Surabaya. Kegiatan yang berlangsung pada 7–12 September 2026 ini bertujuan mendampingi kesiapan tim RS Kemenkes Surabaya dalam penerapan layanan Radioterapi Stereotaktik pertama di Jawa Timur dengan mengedepankan mutu dan keselamatan pasien.
Dalam kegiatan tersebut, RS Kanker Dharmais mengirimkan tim yang terdiri dari dokter spesialis onkologi radiasi, Radiotherapy Technologist (RTT), dan fisikawan medis. Pendampingan mencakup seluruh rangkaian proses layanan, mulai dari persiapan CT simulator dan Quality Assurance (QA), CT simulation, target dan Organ At Risk (OAR) Contouring, treatment planning, evaluasi rencana terapi, hingga Patient-Specific Quality Assurance (PSQA).
Dokter Spesialis Onkologi Radiasi RS Kanker Dharmais, dr. Kartika Erida Brohet, Sp.Onk.Rad(K), menjelaskan bahwa pendampingan difokuskan pada dua kasus keganasan di area kepala, yaitu satu kasus dengan layanan stereotaktik radiosurgery dan satu kasus dengan fractionated stereotactic radiotherapy. Pendampingan dilakukan mulai dari penentuan indikasi klinis dan pembahasan multidisiplin hingga proses simulasi, contouring, planning, quality assurance, verifikasi, dan penyinaran pasien.
“Fokusnya kami melakukan pendampingan untuk layanan stereotaktik radiosurgery pada satu kasus dan satu kasus lainnya adalah fractionated stereotactic radiotherapy,” jelas dr. Kartika.
Melalui kegiatan proctorship ini, RS Kanker Dharmais tidak hanya mendampingi pelaksanaan kasus, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kesiapan layanan radioterapi di rumah sakit jejaring.
“Kami berharap semakin banyak rumah sakit yang juga bisa melakukan teknik stereotaktik di rumah sakitnya untuk indikasi klinis tertentu,” ujar dr. Kartika.
Pengembangan layanan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan radioterapi dengan teknologi dan teknik yang semakin berkembang, sehingga pasien tidak selalu harus mendapatkan layanan di rumah sakit rujukan tingkat nasional.
Selain memperluas akses layanan, pengembangan kemampuan rumah sakit jejaring juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kanker dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang tersedia di daerah.
“Semoga RS Kemenkes Surabaya pelayanannya semakin baik, kapasitasnya juga meningkat. Adanya teknik yang canggih juga akan membuat tingkat kepercayaan masyarakat semakin meningkat untuk berobat di RSUP Kemenkes Surabaya,” tuturnya.
Dalam kegiatan proctorship tersebut, dr. Kartika Erida Brohet, Sp.Onk.Rad(K) didampingi oleh Moh. Haris, S.ST dan Rakhmad Yusuf, S.ST.Rad selaku Radiotherapy Technologist (RTT), serta Mardon Limena, M.Si selaku Fisikawan Medis RS Kanker Dharmais.
Meningkatkan Kompetensi dan Kesiapan Layanan Stereotaktik
Bagi RS Kemenkes Surabaya, kegiatan proctorship menjadi kesempatan strategis untuk meningkatkan kesiapan dan kualitas layanan radioterapi, khususnya dalam penerapan teknik stereotaktik.
Dokter Spesialis Onkologi Radiasi RS Kemenkes Surabaya, dr. Dede Sulaeman Farisi, Sp.Onk.Rad, menyampaikan bahwa stereotaktik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memberikan radiasi dalam dosis tinggi secara presisi. Lebih dari itu, layanan tersebut mencakup keseluruhan proses pelayanan.
“Jadi stereotaktik ini menurut kami tidak hanya terkait dengan kemampuan untuk memberikan radiasi dengan dosis tinggi, tetapi lebih dari itu mencakup keseluruhan proses,” ujar dr. Dede.
Menurutnya, terdapat sejumlah kompetensi yang perlu diperkuat melalui kegiatan proctorship. Salah satunya adalah clinical decision making, khususnya dalam menentukan pasien yang tepat untuk mendapatkan terapi dengan teknik stereotaktik.
Selain itu, penguatan juga mencakup kemampuan delineasi, contouring, dan planning untuk memastikan target terapi mendapatkan dosis yang sesuai sekaligus melindungi organ-organ penting di sekitarnya. Aspek quality assurance dan patient safety juga menjadi perhatian utama mengingat radioterapi stereotaktik menggunakan dosis tinggi dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.
Kompetensi lainnya adalah kemampuan bekerja dalam multidisciplinary team. Pelaksanaan radioterapi stereotaktik membutuhkan kolaborasi antara dokter onkologi radiasi, fisikawan medis, RTT, perawat, tim moulding, serta tenaga teknis lainnya.
“Kompetensi yang kita inginkan itu bukan semata-mata terkait dengan technical skill, tetapi juga terkait dengan clinical judgment, quality assurance, sampai alur SOP yang baik,” jelas dr. Dede.
Ke depan, kolaborasi antara RS Kanker Dharmais dan RS Kemenkes Surabaya diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian proctorship selesai. dr. Dede berharap kerja sama dapat dilanjutkan melalui diskusi klinis dan sharing knowledge, terutama dalam penanganan kasus stereotaktik dengan kompleksitas tinggi.
Sebagai salah satu pusat rujukan di kawasan Indonesia Timur, pengembangan layanan stereotaktik di RS Kemenkes Surabaya diharapkan memudahkan pasien memperoleh radioterapi kompleks tanpa harus ke luar daerah maupun luar negeri.