
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais menegaskan komitmennya untuk menjadi Pusat Kanker Nasional bertaraf level asia dengan unggulan Precision Treatment yang tumbuh berkelanjutan. Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Kinerja Tahun 2026 RS Kanker Dharmais yang digelar pada Kamis s.d. Jumat, 22–23 Januari 2026, di Ruang Auditorium Lantai 9 Gedung Cendana, sebagai bagian dari konsolidasi strategi menghadapi tantangan layanan kanker di tingkat nasional dan global.
Rapat kinerja tahun ini mengusung tema “Layanan Unggul, Kinerja Tangguh dalam Persaingan Global”, yang merepresentasikan arah Rencana Strategi Bisnis (RSB) RS Kanker Dharmais periode 2025–2030. Seluruh peserta rapat, mulai dari jajaran manajemen hingga tenaga medis di lini terdepan, berkomitmen bersama untuk mendorong kemajuan rumah sakit secara efektif, inovatif, dan unggul.
Ketua Dewan Pengawas RS Kanker Dharmais, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia, Apt., M.Pharm., MARS, menekankan pentingnya penyelarasan antara indikator kinerja, kegiatan nyata, dan dampak pelayanan, khususnya pada indikator non-keuangan yang mencerminkan mutu layanan dan pengalaman pasien.
“Indikator kinerja tidak boleh berhenti pada kelengkapan dokumen. Setiap kegiatan harus dirancang secara sadar untuk menjawab tujuan indikator yang ingin dicapai. Ketika indikator dan kegiatan tidak saling terhubung, capaian kinerja menjadi bias dan tidak mencerminkan kerja nyata,” tegasnya.
Menurut Lucia, penguatan tata kelola kinerja harus dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat rumah sakit, unit kerja, hingga individu, agar seluruh upaya perbaikan dapat diukur secara objektif dan berdampak langsung pada kualitas layanan. Ia menegaskan bahwa perbaikan kinerja bukan untuk mencari kesalahan, melainkan membangun budaya kerja yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, Anggota Dewan Pengawas RS Kanker Dharmais, Prof. dr. Ario Djatmiko, Sp.B. Onk, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan merupakan misi moral dan ilmiah, bukan semata aktivitas komersial. Rumah sakit, menurutnya, tidak sedang menjual produk, melainkan menjalankan amanah kemanusiaan yang menuntut ketepatan ilmiah, integritas, dan empati.
“Pelayanan kesehatan adalah sacred mission. Rumah sakit yang berhasil secara institusi belum tentu berhasil di mata pasien. Rumah sakit terbaik adalah rumah sakit yang memberikan value, yakni outcome yang baik dengan biaya yang rasional dan terukur,” ujarnya.
Prof. Ario juga menyoroti pentingnya knowledge management dan penguatan peran RS Kanker Dharmais sebagai teaching hospital dan pusat produksi pengetahuan. Sebagai National Cancer Center, RS Kanker Dharmais diposisikan bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai ujung tombak pengembangan ilmu, inovasi, dan teknologi kanker di Indonesia.
“Keunggulan rumah sakit tidak ditentukan oleh gedung atau alat semata, tetapi oleh spirit, nilai, dan desain sistemnya. Perbedaan rumah sakit kelas dunia terletak pada bagaimana pengetahuan dikelola, dibagikan, dan dikembangkan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, menyampaikan bahwa layanan unggul merupakan prasyarat utama untuk dapat bersaing di tingkat global, sementara kinerja yang tangguh menjadi fondasi agar rumah sakit mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.
“Bangunan dan teknologi tidak akan berarti tanpa manusia di dalamnya. Kekuatan utama RS Kanker Dharmais adalah sumber daya manusianya. Karena itu, transformasi yang kami dorong tidak hanya menyentuh aspek klinis, tetapi juga sistem, budaya kerja, dan kolaborasi multidisiplin,” ujarnya.
Sebagai rumah sakit pengampu layanan kanker nasional di 38 provinsi, RS Kanker Dharmais menghadapi tantangan besar terkait pemerataan layanan, keterbatasan fasilitas kanker di daerah, serta tingginya beban kasus rujukan. Untuk menjawab tantangan tersebut, rumah sakit menetapkan sejumlah target strategis tahun 2026, antara lain peningkatan maturity rating organisasi, peningkatan ketepatan waktu layanan rawat jalan dan rawat inap, pencapaian indikator klinis unggulan kanker, serta penguatan kemandirian finansial melalui peningkatan pendapatan non-JKN.
dr. Soeko menambahkan bahwa transformasi layanan kanker ke depan akan diperkuat melalui pendekatan multidisiplin berbasis departemen, peningkatan presisi diagnostik, serta integrasi layanan yang lebih efisien dan berorientasi pada pasien.
“Kepercayaan masyarakat adalah kunci. Kita tidak boleh puas hanya karena menjadi rujukan nasional. Tantangan kita adalah memastikan layanan yang cepat, presisi, manusiawi, dan setara dengan pusat kanker terkemuka di Asia,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Panitia Rapat Kinerja Tahun 2026, sekaligus Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan, dr. Tengku Winda Ardini, M.Ked(Cardio), Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting seiring dengan pembentukan departemen baru serta pelaksanaan uji indikator kinerja bersama Departemen dan Direktorat Medik.
“Rapat kerja ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang bersama untuk menyamakan arah. Seluruh unit, instalasi, dan direktorat terlibat aktif agar indikator kinerja tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada kualitas proses dan dampak layanan,” ujarnya.
Melalui rapat kerja ini, RS Kanker Dharmais menegaskan posisinya sebagai motor penggerak transformasi layanan kanker nasional. Dengan sinergi seluruh elemen rumah sakit, RS Kanker Dharmais optimistis dapat menjawab tantangan peningkatan kasus kanker sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam peta layanan kanker regional dan global.