
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais terus memperkuat pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dan keluarga sebagai bagian dari komitmennya meningkatkan mutu layanan bagi masyarakat. Melalui penerapan budaya Patient-Centered Care, rumah sakit mendorong keterlibatan aktif pasien dan keluarga dalam setiap proses pelayanan, sehingga pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan, nilai, dan harapan pasien secara menyeluruh.
Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA mengatakan, sebagai pusat kanker nasional, penerapan Patient-Centered Care (PCC) harus menjadi budaya dalam setiap layanan yang diberikan kepada Masyarakat dengan memperkuat regulasi, kebijakan, dan budaya pelayanan yang menempatkan pasien sebagai pusat dari seluruh proses pelayanan kesehatan.
“Bagaimana regulasi-regulasi kita, kebijakan-kebijakan kita, dan bagaimana budaya kita dalam memberikan pelayanan itu benar-benar melibatkan pasien dan keluarga. Ini yang harus kita lakukan,” ujar dr. Eniarti dalam kegiatan Assessment Hospital Patient Centered Care Award (HPCCA) pada 7–8 Juli 2026.
Pelibatan pasien dan keluarga telah diterapkan di RS Kanker Dharmais melalui berbagai layanan. Selain memiliki Multidisciplinary Team (MDT) yang membahas kebutuhan medis pasien secara komprehensif, rumah sakit juga memiliki Tim Navigasi Pasien Kanker (NAPAK) yang menjadi salah satu keunggulan dalam mendampingi pasien dan keluarga. Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga membantu memenuhi berbagai kebutuhan nonmedis selama pasien menjalani pengobatan.
"Tim NAPAK ini sebenarnya sebuah unggulan dari RS Kanker Dharmais, bagaimana kita benar-benar mengajak pasien dan keluarga. Kebutuhannya bukan hanya kebutuhan medis, tetapi juga kebutuhan nonmedis," katanya.
dr. Eniarti juga menekankan bahwa pelayanan yang baik harus didukung dengan dokumentasi yang baik. Menurutnya, seluruh proses pelayanan yang diberikan kepada pasien perlu tercatat melalui electronic medical record sehingga dapat menjadi bukti sekaligus bahan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan.
"Catat apa yang Anda lakukan, lakukan apa yang Anda catat, dan dokumentasikanlah dengan baik di dalam rekam medis. Dengan electronic medical record, seharusnya lebih memudahkan kita melihat apa yang sudah kita lakukan," jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan pasien dan keluarga dalam menentukan pelayanan terbaik, baik dari aspek medis, sosial, maupun kultural, dapat membuat pasien merasa lebih didengar dan dihargai. Melalui penerapan PCC, proses pengambilan keputusan juga menjadi lebih terbuka sehingga potensi komplain dapat diminimalkan.
Ketua Tim Asesor Assessment Hospital Patient Centered Care Award (HPCCA), Dr. dr. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K), MM, FISQua, CHt, CH.Med, MQM, MPM, menyampaikan bahwa perkembangan pelayanan kesehatan di dunia saat ini semakin menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan.
Menurutnya, regulasi pelayanan kesehatan selama ini lebih banyak menekankan pada clinical governance, sementara pembahasan mengenai pasien dan pengalaman pasien belum sepenuhnya tercatat secara kuat dalam aturan maupun standar. Padahal, pelayanan kesehatan saat ini semakin menekankan pentingnya patient-centered care, yaitu pelayanan yang benar-benar berpusat pada pasien, bukan semata-mata pada dokter atau tenaga kesehatan.
“Sekarang ini patient-centered care. Artinya, pelayanan itu terpusat kepada pasien, bukan kepada dokter lagi. Karena salah satu persyaratan untuk masuk ke tingkat dunia adalah bagaimana patient experience itu dicatat,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Hanny mengatakan bahwa salah satu prinsip utama Patient-Centered Care adalah membangun kerja sama antara tenaga kesehatan dengan pasien dalam setiap proses pelayanan. Pasien perlu memahami diagnosis, rencana terapi, hingga pilihan pengobatan sehingga dapat berperan aktif dalam pengambilan keputusan.
Ia menambahkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memahami kondisi dan pengobatannya memiliki proses pemulihan yang lebih baik serta potensi keluhan yang lebih rendah.
"Kalau pasien mengerti, penyembuhan dia lebih cepat dan tuntutan juga akan berkurang. Intinya, Patient-Centered Care itu adalah memanusiakan manusia," tuturnya.
Assessment Hospital Patient Centered Care Award (HPCCA) dilaksanakan di Rumah Sakit Kanker Dharmais pada 7–8 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya pelayanan yang berpusat pada pasien. Hasil asesmen diharapkan menjadi masukan bagi rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu pelayanan serta memberikan pengalaman pelayanan yang lebih baik bagi pasien dan keluarga.