
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais terus mendorong penguatan jejaring layanan kanker melalui kolaborasi dengan rumah sakit jejaring. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan Kaji Tiru (Benchmarking) Rumah Sakit Jejaring Layanan Kanker Wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berlangsung di RSK Dharmais pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Sebagai Rumah Sakit Pengampu Regional Layanan Kanker di Provinsi DKI Jakarta, RS Kanker Dharmais membuka ruang pembelajaran dan pengembangan kompetensi bersama rumah sakit jejaring. Kegiatan ini menjadi momentum untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik dalam penyelenggaraan layanan kanker.
Direktur Utama RSK Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, mengatakan penguatan jejaring menjadi penting karena pelayanan kanker membutuhkan penanganan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai disiplin ilmu.
“Memang untuk pelayanan kanker ini kita tidak bisa sendirian. Kalau kita bicara end-to-end, ini kan banyak sekali. Mulai dari temuan atau hasil deteksi dininya, untuk penegakan diagnostiknya, kemudian itu untuk terapinya, rehabilitasinya sampai dengan paliatif. Ini membutuhkan multidisiplin, tidak bisa hanya sendirian,” ujar dr. Eniarti.
Menurutnya, kebutuhan pelayanan kanker yang bersifat menyeluruh membuat penguatan kapasitas rumah sakit tidak hanya berfokus pada satu aspek pelayanan. Kolaborasi antar-rumah sakit menjadi bagian penting dalam mendukung kemampuan pelayanan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
dr. Eniarti juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam proses pengampuan. Menurutnya, kesempatan pengembangan kompetensi tidak hanya tersedia di RS Kanker Dharmais, tetapi juga dapat dilakukan melalui rumah sakit pengampuan regional.
“Ini kesempatan untuk peningkatan kemampuan kompetensi SDM, bagi SDM maupun nakes lainnya. Bisa jadi mungkin tidak semuanya adanya di RSK Dharmais, tetapi kesempatan itu ada juga di rumah sakit-rumah sakit pengampuan regional. Jadi manfaatkan ini,” katanya.
Selain pengembangan kompetensi, dr. Eniarti menekankan bahwa penguatan layanan kanker juga perlu dimulai dari edukasi dan deteksi dini. Hal tersebut menjadi penting karena masih terdapat pasien yang datang dengan kondisi kanker pada stadium lanjut.
“Pertama kita memulai dari edukasi dan deteksi dini. Kalau saya kadang-kadang itu melihat, datang itu rata-rata itu sudah stadiumnya 3 dan 4,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, dr. Eniarti menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar fasilitas yang tersedia untuk pemeriksaan dan deteksi dini dapat dimanfaatkan. Di RS Kanker Dharmais, tersedia fasilitas USG, mamografi, dan pemeriksaan SADANIS yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemeriksaan dan deteksi dini.
“Di mana disediakan USG, disediakan mamografi, disediakan juga pemeriksaan SADANIS dan ada suvenir, ternyata tidak semudah itu untuk mengajak. Itu yang tugas kita,” ujarnya.
dr. Eniarti juga berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan pengampuan layanan kanker di berbagai wilayah. Menurutnya, pengampuan memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika rumah sakit harus membangun kemampuan pelayanan secara menyeluruh.
“Kita berkuat-kuat bicara tentang pengampuan. Untuk hal yang dasar saja pun saudara-saudara kita di sana itu belum mampu. Kita bicara end-to-end. Tidak usah empat kanker, satu saja tidak mudah juga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Ratna Sari, MKM., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan benchmarking sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengampuan layanan kanker.
Menurut dr. Ratna, pengampuan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan pelayanan, tetapi juga menjadi proses kolaboratif antara rumah sakit pengampu dan rumah sakit jejaring.
“Pengampuan ini dirancang sebagai proses kolaboratif untuk meningkatkan kompetensi rumah sakit, terutama di Rumah Sakit Kepulauan Seribu,” ujarnya.
Di wilayah DKI Jakarta terdapat 31 RSUD, dengan tujuh rumah sakit daerah yang ditetapkan sebagai jejaring pengampuan. Rumah sakit tersebut meliputi RSUD Pasar Minggu dengan strata utama, serta RSUD Koja, RSUD Pasar Rebo, RSUD Budhi Asih, RSUD Tarakan, RSUD Cengkareng, dan RSUD Kepulauan Seribu dengan strata sesuai penetapan pengampuan.
Melalui kegiatan benchmarking ini, penguatan jejaring diharapkan dapat menghasilkan perencanaan strategis yang dapat ditindaklanjuti bersama rumah sakit daerah.
“Semoga hari ini bisa menghasilkan output berupa perencanaan strategis yang bisa kami tindak lanjuti bersama rumah sakit daerah,” ujar dr. Ratna.
Kegiatan benchmarking di RS Kanker Dharmais tidak hanya diarahkan untuk melihat fasilitas pelayanan, tetapi juga memahami tata kelola layanan, koordinasi multidisiplin, pengelolaan SDM, proses pelayanan, sistem rujukan, pengelolaan klaim JKN, serta berbagai aspek pendukung pelayanan kanker.
Rangkaian kegiatan juga mencakup observasi diskusi multidisiplin Departemen Thoraks, sharing strategi optimalisasi klaim JKN layanan kanker, serta pengenalan layanan farmasi dan handling cytotoxic, terapi sistemik, radiologi, kedokteran nuklir, dan radioterapi.
Melalui kegiatan tersebut, benchmarking diharapkan tidak berhenti pada kegiatan melihat fasilitas, tetapi menghasilkan pembelajaran yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan, kapasitas, dan kondisi masing-masing rumah sakit. Penguatan jejaring melalui kegiatan kaji tiru juga diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas rumah sakit jejaring sehingga pelayanan kanker di Provinsi DKI Jakarta dapat berkembang secara lebih terintegrasi dan berkesinambungan.