
Loading...

RS Kanker Dharmais mencatatkan prestasi dalam penerapan keselamatan, kesehatan kerja, lingkungan, dan keberlanjutan melalui ajang Indonesia QHSE & Sustainability Award (IQSA) 2026 yang digelar di Jakarta pada Jumat, 28 Agustus 2026. RS Kanker Dharmais meraih dua penghargaan institusi, sementara satu penghargaan diberikan kepada individu dari lingkungan RSK Dharmais.
Dua penghargaan yang diberikan, yakni The Best QHSE Sustainability 2026 dan The Best QHSE – Concerned Company 2026. Sementara itu, Muhammad Arif Dalimunthe meraih penghargaan The Best QHSE Leadership 2026.
Direktur Utama RSK Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, menyampaikan rasa bahagia dan syukur atas pencapaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama, khususnya tim Instalasi LK3, serta dukungan seluruh unsur di lingkungan rumah sakit.
“Yang pertama tentunya bahagia dan bersyukur atas kinerja semua, khususnya adik-adik yang di Instalasi LK3 ini, luar biasa. Namun tentu setelah ini banyak sekali tantangannya,” ujar dr. Eniarti.
RS Kanker Dharmais juga memiliki tantangan tersendiri dalam penerapan K3 karena berkaitan dengan lingkungan kerja yang memiliki risiko, termasuk risiko radiasi dalam pelayanan kedokteran nuklir. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penerapan kebijakan dan aturan, termasuk dalam pengelolaan limbah dari kegiatan kedokteran nuklir.
“Kita dalam lokasi dan lingkungan yang berisiko. Berisikonya itu tadi, risiko radiasi. Karena di sini kita itu memiliki kedokteran nuklirnya,” ungkapnya.
Dalam menjalankan komitmen tersebut, RS Kanker Dharmais tidak hanya melibatkan unsur internal rumah sakit. Menurut dr. Eniarti, berbagai pemangku kepentingan perlu memahami arah yang ingin dicapai rumah sakit dan ikut mendukung penerapannya.
“Kita selalu mengajak, karena tadi stakeholder kita, dari Kementerian Kesehatan, kemudian dari BAPETEN, kalau kita bicara tentang kedokteran nuklirnya yang penuh dengan radiasinya. Kemudian dengan PUPR-nya kalau kita bicara tentang konstruksinya, lalu pihak-pihak mitra kita,” jelasnya.
Bagi dr. Eniarti, penghargaan IQSA 2026 bukan menjadi akhir dari upaya yang telah dilakukan. Penghargaan tersebut justru menjadi titik awal untuk mempertahankan capaian sekaligus terus melakukan perbaikan.
“Penghargaan itu bukan hanya sekadar untuk saat ini, tetapi menjadi titik awal untuk kita mempertahankan dan selalu mengawal tentu terhadap perbaikan-perbaikan. Itu harus kita lakukan,” ujarnya.
Ke depan, dr. Eniarti berharap RS Kanker Dharmais dapat terus mengikuti perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan digitalisasi. Di sisi lain, pengelolaan limbah radiasi juga menjadi perhatian yang perlu terus ditata sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan.
“Kita yang saat ini mungkin berbicara tentang AI dan pemanfaatannya, kemudian digitalisasi yang sudah ada, yang paling khusus itu yang harus kita jaga adalah limbah dari radiasi itu sendiri. Itu juga untuk kesehatan semua, penting sekali untuk kita tata kembali,” pungkas dr. Eniarti.
Sementara itu, Occupational Health Advisor RSK Dharmais, Muhammad Arif Dalimunthe, penerima penghargaan The Best QHSE Leadership 2026, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga bentuk apresiasi atas kerja bersama seluruh insan RS Kanker Dharmais.
“Lebih dari itu, penghargaan ini menjadi pengingat untuk terus belajar, terus berkembang, dan memastikan apa yang kita lakukan dapat memberikan manfaat bagi organisasi, insan rumah sakit, pasien, dan lingkungan,” ujar Arif.
Menurut Arif, persistensi dan kolaborasi menjadi kunci dalam penerapan QHSE di RS Kanker Dharmais. QHSE tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit, tetapi merupakan bagian dari tata kelola yang melibatkan seluruh elemen rumah sakit sehingga dapat tumbuh dan diterapkan secara konsisten di seluruh organisasi.
“QHSE dapat menjadi sebuah ekosistem yang tumbuh dan berjalan secara konsisten di seluruh organisasi,” jelasnya.
Ke depan, lanjut Arif, upaya akan diarahkan pada penguatan inovasi dan perbaikan berkelanjutan agar memberikan dampak yang semakin nyata bagi keselamatan, lingkungan, dan keberlanjutan rumah sakit.
“Penghargaan ini bukan akhir, dan tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri. Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem QHSE, mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan, agar memberikan dampak yang semakin nyata bagi keselamatan, lingkungan, dan keberlanjutan RS Kanker Dharmais,” harapnya.
Sebagai Pusat Kanker Nasional, RSK Dharmais terus menerapkan Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE) sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan yang bermutu dan aman. Penerapannya juga menjadi bagian dari budaya kerja untuk melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan lingkungan.