
Loading...

Rumah Sakit Kanker Dharmais menyelenggarakan Sosialisasi Program CAR-T sebagai Salah Satu Terapi Mutakhir Leukemia Anak kepada Yayasan Pemerhati Kanker Anak di Auditorium RSK Dharmais, 2 September 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan terapi CAR-T (Chimeric Antigen Receptor T-Cell) sekaligus memberikan pemahaman mengenai perkembangan pilihan terapi bagi anak dengan leukemia, terutama ketika penyakit tidak lagi memberikan respons yang memadai terhadap terapi standar.
Kemoterapi hingga saat ini tetap menjadi salah satu terapi utama leukemia pada anak dan telah memberikan peluang kesembuhan bagi banyak pasien. Namun, perjalanan setiap anak tidak selalu sama. Pada sebagian pasien, sel leukemia dapat bertahan meskipun telah mendapatkan kemoterapi sehingga penyakit menjadi refrakter, atau leukemia yang sebelumnya telah mengalami remisi dapat muncul kembali atau mengalami relaps.
Pada kelompok pasien inilah tantangan menjadi semakin besar. Pilihan terapi dapat menjadi lebih terbatas dan dibutuhkan strategi pengobatan lain untuk kembali mengendalikan penyakit. Perkembangan imunoterapi dan terapi seluler kemudian menghadirkan CAR-T sebagai salah satu harapan baru bagi pasien leukemia tertentu yang mengalami relaps atau refrakter terhadap pengobatan sebelumnya.
Direktur Utama RSK Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, menyampaikan bahwa leukemia dan keganasan hematologi lainnya pada anak masih menjadi tantangan dalam pelayanan kanker. Banyak pasien memperoleh hasil baik melalui kemoterapi, sementara pada kondisi tertentu dapat diperlukan terapi lanjutan, termasuk transplantasi sel punca hematopoietik. Namun, masih terdapat pasien yang mengalami kekambuhan atau tidak lagi merespons terapi standar.
“Ketika terapi yang selama ini kita miliki belum memberikan respons yang diharapkan, kita membutuhkan pilihan terapi lain. CAR-T Cell Therapy hadir sebagai salah satu modalitas terapi seluler mutakhir yang memberikan harapan baru bagi pasien dengan kondisi tertentu,” ujar dr. Eniarti.
Sebagai Pusat Kanker Nasional, RSK Dharmais memiliki peran strategis dalam mengembangkan kapasitas pelayanan kanker di Indonesia, termasuk mempersiapkan layanan terapi mutakhir seperti CAR-T untuk pasien anak.
Menurut dr. Eniarti, pengembangan layanan tersebut membutuhkan proses yang komprehensif. CAR-T bukan sekadar pemberian suatu obat, melainkan rangkaian terapi seluler yang membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, fasilitas laboratorium dan klinis, sistem pemantauan pasien, serta standar keselamatan yang ketat.
“Ini bukan pekerjaan yang mudah maupun singkat, karena membutuhkan kesiapan dari sisi sumber daya manusia, infrastruktur, hingga standar keselamatan pasien. Namun, kami yakin bahwa langkah ini penting untuk terus diperjuangkan,” jelasnya.
dr. Eniarti juga menyampaikan apresiasi kepada yayasan dan komunitas yang selama ini mendampingi anak dengan kanker dan keluarganya melalui edukasi, dukungan psikososial, serta advokasi.
Menurutnya, yayasan dan komunitas memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan pasien dan keluarga. Pemahaman yang tepat mengenai CAR-T diharapkan membantu masyarakat memahami bahwa perkembangan ilmu kedokteran terus membuka pilihan baru, termasuk bagi sebagian pasien yang sebelumnya memiliki pilihan terapi yang terbatas.
“Keberhasilan program ini bukan hanya tugas rumah sakit dan tenaga medis semata, melainkan membutuhkan sinergi bersama seluruh pihak,” tutur dr. Eniarti.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi RS Kanker Dharmais, Dr. dr. Mururul Aisyi, Sp.A, SubSp. H. O (K), dalam pemaparannya menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan leukemia adalah adanya sel kanker yang dapat bertahan setelah kemoterapi. Sel tersebut dapat berkembang kembali dan menyebabkan relaps. Pada sebagian pasien, leukemia bahkan tidak memberikan respons yang memadai sejak awal atau setelah beberapa lini pengobatan.
CAR-T menawarkan pendekatan yang berbeda dari kemoterapi konvensional. Jika kemoterapi bekerja menggunakan obat untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker, CAR-T memanfaatkan salah satu komponen sistem kekebalan tubuh pasien sendiri, yaitu sel T, yang kemudian direkayasa agar mampu mengenali target tertentu pada sel kanker.
“Pada sebagian besar anak, kemoterapi tetap merupakan terapi utama dan dapat memberikan hasil yang sangat baik. Tetapi kita juga menghadapi anak-anak yang leukemianya kembali atau tidak lagi merespons kemoterapi. Untuk kelompok pasien tertentu inilah CAR-T memberikan sebuah harapan baru,” jelas Dr. Aisyi.
Dalam proses CAR-T, sel T diambil dari tubuh pasien melalui proses pengumpulan sel. Sel tersebut kemudian diproses dan direkayasa di laboratorium agar memiliki Chimeric Antigen Receptor (CAR), yaitu reseptor khusus yang memungkinkan sel T mengenali target tertentu pada permukaan sel leukemia.
Setelah melalui proses produksi dan perbanyakan, pasien menjalani tahap persiapan sebelum sel CAR-T diberikan kembali melalui infus. Setelah berada di dalam tubuh, sel CAR-T diharapkan dapat mengenali, mencari, dan menyerang sel kanker yang memiliki target tersebut.
“Secara sederhana, kita mengambil sel pertahanan tubuh pasien, kemudian memberikan kemampuan baru kepada sel tersebut untuk mengenali kanker. Setelah diproses, sel itu dikembalikan kepada pasien untuk mencari dan menyerang sel leukemia yang menjadi targetnya,” terang Dr. Aisyi.
Ia menekankan bahwa CAR-T bukan pengganti kemoterapi untuk seluruh pasien leukemia anak dan tidak semua pasien membutuhkan atau memenuhi kriteria untuk terapi tersebut. Pemilihan pasien harus dilakukan secara hati-hati berdasarkan jenis leukemia, karakteristik penyakit, target yang terdapat pada sel kanker, respons terhadap terapi sebelumnya, serta kondisi klinis pasien.
Namun, bagi sebagian pasien dengan leukemia relaps atau refrakter, terutama ketika pilihan terapi konvensional semakin terbatas, kehadiran CAR-T memberikan perspektif baru dalam perjalanan pengobatan.
“Yang paling penting adalah hadirnya pilihan. Ketika seorang anak telah menjalani kemoterapi tetapi penyakitnya tetap tidak merespons atau kembali lagi, kita ingin tetap mempunyai strategi berikutnya. CAR-T membuka harapan baru bagi kelompok pasien tersebut,” ujar Dr. Aisyi.
Pelaksanaan CAR-T tetap membutuhkan pemantauan yang sangat ketat karena terapi ini dapat menimbulkan efek samping khusus yang memerlukan tim multidisiplin dan fasilitas yang memadai. Karena itu, kesiapan program tidak hanya mencakup teknologi produksi sel, tetapi juga kesiapan dokter, perawat, laboratorium, farmasi, transfusi darah, intensive care, serta berbagai disiplin lain yang terlibat dalam perjalanan pasien.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, RS Kanker Dharmais berupaya meningkatkan pemahaman yayasan dan komunitas pemerhati kanker anak bahwa perkembangan terapi leukemia tidak berhenti pada kemoterapi. Ketika kemoterapi belum mampu mengendalikan penyakit pada sebagian pasien, kemajuan imunoterapi dan terapi seluler seperti CAR-T kini membuka kemungkinan terapi baru yang sebelumnya belum tersedia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah untuk memperkuat kolaborasi antara RSK Dharmais, yayasan, komunitas, tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga dalam mendukung pengembangan Program CAR-T Anak di Indonesia.
Harapannya, di masa mendatang anak-anak dengan leukemia relaps atau refrakter yang memenuhi kriteria dapat memperoleh akses terhadap terapi mutakhir tersebut di dalam negeri.
Bagi anak dengan kanker yang penyakitnya tidak lagi merespons kemoterapi, hadirnya pilihan terapi baru bukan sekadar perkembangan teknologi kedoktera, tetapi hadirnya sebuah harapan baru.