
Loading...

Layanan transplantasi sumsum tulang (TST) atau disebut juga transplantasi sel punca hematopoietik /Hematopoietic Stem Cell Transplantation (HSCT) di RS Kanker Dharmais di inisiasi sejak sebelum tahun 2011. Dr. dr. Dody Ranuhardy, Sp.PD-KHOM, FINASIM dan dr. Syafrizal Syafei, Sp.PD, KHOM menjalani pelatihan di Leiden, Germany dengan cita-cita mendirikan pusat transplantasi sumsum tulang di Indonesia.
Pada tahun 2011, RS Kanker Dharmais mengirimkan sebuah tim untuk menjalani pelatihan TST autologous (donor sel punca hematopoietik berasal dari diri sendiri) di Singapore General Hospital. Hasilnya, pada tahun 2016 telah terlaksana layanan transplantasi autologous pertama di RS Kanker Dharmais pada pasien Ny DN dengan diagnosis Multiple Myeloma yang masih hidup sampai saat ini.
Pengembangan layanan kemudian dilanjutkan, termasuk pelatihan TST alogenik (donor berasal dari orang lain yang memiliki kecocokan HLA 100%) di National Cancer Center Korea, Korea Selatan, pada tahun 2019. Namun sayangnya, pelayanan TST alogenik sempat tertunda karena pandemic Covid-19.
Implementasi klinis berkembang lebih aktif pada periode 2023–2026. Hingga Juli 2026, tercatat total 16 pasien dewasa telah menjalani HSCT di RS Kanker Dharmais, terdiri atas 10 transplantasi autologus dan 6 transplantasi alogenik dengan tingkat keberhasilan mencapai 87,5%. Kasus-kasus yang ditangani mencakup leukemia akut, limfoma (kanker kelenjar getah bening) dan myeloma multipel.
Pada tahun 2026, tim TST RS Kanker Dharmais kembali mengikuti pengembangan kompetensi di Singapore General Hospital, kali ini dengan fokus pada TST haploidentical (menggunakan donor dari orang lain yang hanya memiliki kecocokan HLA 50%), agar secara praktis tidak ada lagi pasien yang memerlukan layanan TST yang tidak memiliki calon donor karena setiap orangtua dan anak pasien dapat menjadi calon donor TST haploidentical.
Kekuatan utama program saat ini adalah tersedianya tim TST yang terdiri atas para ahli dengan keahlian beragam (multidisiplin) yang berpengalaman dan bekerja secara sinergis menangani proses transplantasi, fasilitas ruang rawat steril dan berbagai layanan penunjang seperti laboratorium canggih dan PET CT scan untuk mendukung pelaksanaan layanan, serta dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dalam TST, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kekompakan tim multidisiplin yang berdedikasi khusus untuk layanan ini. Adapun tim multidisiplin layanan transplantasi sumsum tulang ini terdiri dari para dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi – Onkologi Medik, Spesialis Patologi Klinik, Spesialis Patologi Anatomi, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik Infeksi, Spesialis Mikrobiologi Klinik, Spesialis Farmakologi Klinik, Spesialis Jantung Pembuluh Darah, Spesialis Paru, Spesialis Bedah Thoraks Kardiovaskular, Spesialis Gizi Klinik, Spesialis Kesehatan Jiwa, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik, Spesialis Onkologi Radiasi, Spesialis Radiologi, Spesialis Kedokteran Nuklir, Dokter Gigi Spesialis Kesehatan Mulut, Farmasis Onkologi serta Tim Perawat terlatih.
Tantangan yang dihadapi saat ini terutama adalah sumber pembiayaan. Tantangan lainnya adalah kepercayaan masyarakat yang masih perlu terus dibangun, terutama karena sebagian masyarakat masih memandang negara-negara tetangga sebagai tujuan utama untuk mendapatkan pelayanan transplantasi. Ketersediaan obat-obat khusus yang sebagian belum tersedia di Indonesia serta fasilitas penunjang dari RS Kanker Dharmais senantiasa dilengkapi untuk menunjang pengembangan layanan ini.
Ke depan, pengembangan layanan diarahkan bukan hanya pada peningkatan jumlah transplantasi, tetapi juga pada peningkatan kompleksitas, kualitas, keselamatan, dan keberlanjutan program. Salah satu arah pengembangan adalah layanan TST haploidentical, yang berpotensi memperluas pilihan donor bagi pasien yang tidak memiliki donor dengan kecocokan penuh. Dengan akan tersedianya Laboratorium Pengolahan Sel Canggih di RS Kanker Dharmais, terbuka kemungkinan untuk memproses sel punca hematopoietic donor sehingga proses pemulihan pasien pasca transplantasi akan lebih cepat dengan efek samping/komplikasi yang lebih rendah. Selain itu, terdapat peluang untuk memperkuat kolaborasi dengan pusat kanker regional dan asosiasi transplantasi sumsum tulang internasional seperti Asia Pacific Bone Marrow Transplantation (APBMT) dan European Blood and Marrow Transplantation (EBMT) serta secara bertahap menuju akreditasi dan sertifikasi internasional.
Dalam konteks tersebut, dukungan Kementerian Kesehatan menjadi sangat strategis, khususnya dalam penguatan infrastruktur, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, kepastian akses terhadap obat dan fasilitas pemeriksaan penunjang canggih seperti laboratorium dan radiologi, penguatan mekanisme pembiayaan, serta pembangunan jejaring transplantasi nasional. Tujuan akhirnya adalah agar pasien dengan keganasan darah yang memiliki indikasi TST dapat memperoleh layanan yang berkualitas lebih dekat dengan keluarga/kerabat di negeri sendiri, dengan akses yang semakin luas dan sistem pelayanan yang berkesinambungan. Dengan fondasi yang telah dibangun selama satu dekade, RS Kanker Dharmais memiliki basis untuk mengembangkan layanan TST dari sebuah program yang sedang bertumbuh menjadi salah satu pusat rujukan layanan TST nasional di Indonesia.