
Loading...

Limfedema adalah kondisi pembengkakan akibat gangguan pada sistem limfatik. Cairan limfa yang seharusnya mengalir lancar justru menumpuk di jaringan tubuh, biasanya pada tungkai atau lengan. Gejalanya sering kali muncul perlahan dan tidak terasa nyeri, sehingga limfedema kerap diabaikan.
Padahal, jika terus dibiarkan, limfedema bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, keterbatasan gerak, meningkatkan risiko infeksi, hingga menurunkan kualitas hidup. Untuk mencegah dampak jangka panjang, kita perlu mengenali berbagai gejala limfedema sejak dini.
Tubuh manusia memiliki sistem limfatik yang berfungsi membawa cairan dan mengeluarkan racun dari jaringan tubuh. Pada penyakit limfedema, cairan limfa menumpuk di jaringan tubuh sehingga mengganggu sistem limfatik. Kondisi ini umumnya ditandai oleh berbagai gejala berikut:
Salah satu gejala utama limfedema adalah pembengkakan, terutama pada area tungkai dan jari. Menumpuknya cairan limfa menyebabkan bagian tubuh tersebut terlihat lebih besar daripada ukuran normalnya. Pembengkakan bisa berlangsung secara bertahap atau muncul tiba-tiba, dan biasanya terasa ringan pada awalnya sehingga sering kali terabaikan.
Seiring besarnya pembengkakan, penderita limfedema biasanya akan merasakan sensasi berat atau “kencang” pada area yang bengkak. Sensasi ini bisa mengurangi fleksibilitas sendi, sehingga sendi terasa kaku atau kurang luwes. Akibatnya, aktivitas sehari-hari pun jadi terasa lebih melelahkan atau menantang untuk dijalani.
Limfedema bisa meningkatkan risiko infeksi kulit, sebab penumpukan cairan menciptakan lingkungan yang rentan bakteri. Saat infeksi terjadi, area yang bengkak biasanya menjadi kemerahan dan lebih mudah memar, bahkan dari benturan kecil sekalipun. Kondisi memar dapat menjadi tanda bahwa jaringan dalam tubuh sedang meradang akibat gangguan aliran limfa.
Salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat limfedema adalah infeksi Selulitis. Infeksi ini bisa menyebabkan demam, meriang, hingga menggigil. Tandanya, bakteri telah memasuki jaringan yang bengkak sehingga memicu respons imun tubuh. Apabila pembengkakan disertai demam yang tidak kunjung turun, segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter.
Anggota tubuh yang bengkak memberikan beban fisik ekstra pada penderita limfedema. Akibatnya, Anda akan merasa tidak nyaman terus-menerus dan sering merasa lelah, bahkan setelah beraktivitas ringan. Selain itu, kelelahan juga bisa menjadi bentuk respons tubuh terhadap infeksi atau peradangan berulang di bagian yang mengalami penumpukan cairan.
Limfedema terjadi akibat gangguan aliran cairan limfa dalam sistem limfatik, yakni jaringan kelenjar getah bening yang bertugas mengalirkan cairan tubuh dan protein ke dalam aliran darah. Ia juga berperan penting dalam menunjang sistem kekebalan tubuh. Saat sistem limfatik terganggu, cairan tidak bisa mengalir dengan lancar sehingga menumpuk dalam jaringan dan menyebabkan bengkak.
Gangguan pada sistem limfatik bisa disebabkan oleh dua faktor, yakni primer dan sekunder. Limfedema primer umumnya terjadi karena bawaan atau genetik, seperti penyakit Meige atau Milroy.
Di sisi lain, limfedema sekunder lebih umum terjadi karena disebabkan oleh faktor eksternal. Banyak kasus limfedema sekunder merupakan komplikasi dari pengobatan kanker, seperti terapi radiasi atau pengangkatan kelenjar getah bening.
Tanpa deteksi dan penanganan tepat sejak dini, pembengkakan akibat limfedema bisa memengaruhi fungsi anggota tubuh penderitanya. Risiko ini dapat diminimalisir melalui pendekatan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Diagnosis biasanya diawali dengan konsultasi medis dan pemeriksaan fisik terhadap pasien. Lalu, untuk memastikan diagnosis atau melihat penyumbatan cairan limfa, kemungkinan dokter akan melakukan prosedur USG, MRI, atau CT scan. Jika perlu, dokter juga akan menjalankan metode lymphoscintigraphy. Prosedur ini menyuntikkan cairan radioaktif ke dalam tubuh untuk memperlihatkan aliran limfa dan titik penyumbatan.
Apabila diagnosis pasien positif limfedema, biasanya dokter akan menyarankan terapi untuk mengurangi pembengkakan dan mencegah komplikasi. Beberapa contohnya adalah terapi olahraga ringan, pemakaian compression garments, penggunaan pneumatic compression, atau teknik pijat manual lymph drainage. Kemudian, dokter juga kemungkinan akan meresepkan obat sesuai dengan penyebab yang mendasari gejala limfedema.
Meskipun gejala awalnya jarang terasa, limfedema tidak boleh dianggap sepele. Pada umumnya, limfedema berhubungan erat dengan penyakit kanker. Karenanya, penanganan limfedema sebaiknya tidak dipisahkan dari pengobatan kanker yang mendasarinya. Anda bisa mendapatkan perawatan menyeluruh tersebut di RS Kanker Dharmais.
Didukung oleh teknologi terkini dan tenaga kesehatan yang berpengalaman, RS Kanker Dharmais siap melayani penanganan berbagai jenis kanker yang bisa memicu limfedema. Dengan pendekatan komprehensif, pasien dapat memperoleh perawatan optimal tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri.
Jadi, jika Anda mengalami keluhan pembengkakan dan riwayat pengobatan kanker, jangan tunda pemeriksaan. Jadwalkan konsultasi dan medical check-up di RS Kanker Dharmais melalui halaman ini.